
Padel menjadi salah satu olahraga yang popularitasnya meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Permainannya yang seru, mudah dipelajari, dan dapat dimainkan oleh berbagai usia membuat olahraga ini semakin diminati.
Namun di balik keseruannya, padel tetap memiliki risiko cedera yang tidak boleh dianggap sepele. Karakteristik permainan yang melibatkan gerakan cepat, perubahan arah mendadak, lompatan, serta ayunan raket berulang dapat memberikan tekanan pada otot, sendi, tendon, dan ligamen.
Sebagian cedera mungkin hanya menyebabkan nyeri ringan yang membaik dengan istirahat. Namun, ada juga cedera yang memerlukan evaluasi medis segera untuk mencegah kerusakan yang lebih serius dan mempercepat proses pemulihan.
Mengapa Cedera Padel Semakin Sering Terjadi?
Padel menggabungkan unsur tenis, squash, dan olahraga raket lainnya. Dalam satu pertandingan, pemain melakukan berbagai gerakan seperti sprint pendek, berhenti mendadak, berputar, berbalik arah secara tiba-tiba dan lain sebagainya. Gerakan tersebut dapat meningkatkan risiko cedera, terutama pada pemain yang:
- Jarang melakukan pemanasan
- Baru mulai bermain padel
- Bermain terlalu sering tanpa pemulihan cukup
- Memiliki riwayat cedera sebelumnya
Karena itu, memahami jenis cedera yang umum terjadi dapat membantu pemain lebih waspada terhadap tanda-tanda yang muncul.
10 Jenis Cedera Padel yang Harus Segera Mendapat Penanganan
Agar cedera Anda tidak memburuk, pahami jenis cedera padel yang butuh mendapat penanganan seger seperti berikut ini:
Tennis Elbow (Cedera Siku)
Meski namanya tennis elbow, cedera ini juga sering terjadi pada pemain padel.
- Nyeri pada sisi luar siku
- Kelemahan saat menggenggam raket
- Nyeri saat mengangkat benda
Cedera Rotator Cuff pada Bahu
Ayunan raket yang berulang dapat menyebabkan iritasi atau robekan pada kelompok otot dan tendon bahu yang disebut rotator cuff.
Gejalanya meliputi:
- Nyeri saat mengangkat lengan
- Kelemahan bahu
- Nyeri saat tidur pada sisi yang cedera
Cedera ACL pada Lutut
Perubahan arah yang cepat saat mengejar bola dapat meningkatkan risiko cedera ACL (Anterior Cruciate Ligament).
Tanda yang perlu diwaspadai:
- Bunyi “pop”
- Lutut bengkak
- Lutut terasa goyah
- Sulit melanjutkan permainan
Robekan Meniskus
Meniskus adalah bantalan tulang rawan pada lutut yang dapat robek akibat gerakan memutar secara tiba-tiba.
Gejalanya:
- Nyeri lutut
- Bengkak
- Lutut terasa terkunci
- Sulit menekuk lutut
Cedera Pergelangan Kaki (Ankle Sprain)
Ankle sprain merupakan salah satu cedera paling umum pada olahraga yang melibatkan perubahan arah cepat.
Kondisi ini terjadi ketika ligamen pergelangan kaki meregang atau robek akibat posisi kaki yang salah saat mendarat.
Tendinitis Achilles
Tendon Achilles menghubungkan otot betis dengan tumit.
Cedera ini dapat menyebabkan:
- Nyeri di belakang pergelangan kaki
- Kaku saat berjalan
- Nyeri saat berlari atau melompat
Cedera Pergelangan Tangan
Gerakan memukul bola berulang dapat memberikan tekanan pada pergelangan tangan.
Keluhan yang sering muncul:
- Nyeri saat menggenggam raket
- Bengkak ringan
- Keterbatasan gerak
Strain Otot Betis
Gerakan eksplosif saat mengejar bola dapat menyebabkan robekan kecil pada serat otot betis.
Gejalanya:
- Nyeri mendadak
- Sensasi tertarik pada betis
- Sulit berjalan normal
- Karena gejalanya sering tidak spesifik, banyak kasus osteoporosis baru terdeteksi setelah terjadi patah tulang.
Cedera Hamstring
Hamstring adalah kelompok otot di bagian belakang paha yang bekerja keras saat berlari dan berubah arah.
Cedera hamstring dapat menimbulkan:
- Nyeri tajam di paha belakang
- Bengkak
- Kelemahan saat berjalan
Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain)
Gerakan memutar tubuh berulang dan posisi membungkuk saat bermain dapat menyebabkan nyeri pada punggung bawah.
Jika tidak ditangani, keluhan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari maupun performa olahraga.
Kapan Cedera Padel Harus Diperiksakan ke Dokter?
Segera konsultasikan ke dokter ortopedi bila mengalami:
- Nyeri hebat setelah cedera
- Bengkak yang semakin membesar
- Sulit berjalan atau menopang berat badan
- Keterbatasan gerak yang signifikan
- Bunyi “pop” saat cedera terjadi
- Nyeri yang tidak membaik dalam beberapa hari
Pemeriksaan lebih lanjut dapat membantu menentukan apakah terdapat cedera pada tendon, ligamen, tulang rawan, atau struktur lainnya.
Cara Mencegah Cedera Saat Bermain Padel
Meskipun tidak semua cedera dapat dicegah, risiko cedera dapat dikurangi dengan beberapa langkah berikut:
Lakukan Pemanasan
Pemanasan membantu mempersiapkan otot dan sendi sebelum aktivitas intens.
Perbaiki Teknik Bermain
Teknik yang benar dapat mengurangi tekanan berlebih pada bahu, siku, dan pergelangan tangan.
Latihan Penguatan Otot
Otot yang kuat membantu menopang sendi dan meningkatkan stabilitas tubuh selama bermain.
Berikan Waktu Recovery yang Cukup
Hindari bermain berlebihan tanpa waktu pemulihan yang memadai.
Gunakan Peralatan yang Sesuai
Sepatu dan raket yang tepat dapat membantu mengurangi risiko cedera akibat gerakan berulang.
Jangan Anggap Remeh Cedera Padel
Padel merupakan olahraga yang menyenangkan dan menyehatkan, tetapi tetap memiliki risiko cedera yang perlu diwaspadai. Mulai dari tennis elbow, cedera bahu, robekan meniskus, hingga cedera ACL, berbagai keluhan dapat terjadi jika tubuh menerima tekanan berlebihan saat bermain.
Semakin cepat cedera dikenali dan ditangani, semakin besar peluang pemulihan yang optimal. Karena itu, jangan abaikan nyeri yang menetap atau gejala yang mengganggu aktivitas setelah bermain padel.
Jika Anda mengalami cedera saat bermain padel, konsultasikan dengan dokter ortopedi untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan penanganan sesuai kondisi cedera yang dialami.
Referensi:
- https://bmjopensem.bmj.com/content/9/2/e001607
- https://www.physio-pedia.com/Padel_Injuries
- https://padel-rules.com/player-guidelines/padel-injuries-prevention/
Artikel ini dibuat dalam panduan dan pengawasan langsung langsung dr. Dadang R. Sasetyo., Sp.OT(K)., Subsp.PL., AIFO-K. Segala informasi dalam artikel ini bertujuan untuk edukasi dan tidak menggantikan konsultasi, pemeriksaan, maupun diagnosis dokter. Hindari self-diagnosis, dan konsultasikan keluhan Anda langsung dengan dr. Dadang R. Sasetyo., Sp.OT(K)., Subsp.PL., AIFO-K untuk penanganan yang tepat.



